TANTANGAN MEMBANGUN PERSONAL BRAND: LEBIH MUDA, LEBIH BAIK

Oleh: Frahm



Mari kita mulai dengan sebuah tantangan: Saya menantang masing-masing kalian para pendidik, untuk masuk ke dalam kelas, dan bertanya kepada para siswa, berapa diantara mereka yang telah memiliki personal brand? Hitunglah, ada berapa siswa yang mengacungkan jarinya. Adakah satu orang, dua orang, atau bahkan tidak ada sama sekali?
Saya berani bertaruh bahwa Anda akan mendapatkan pandangan kosong dari mereka. Bisa jadi, bahkan mereka tak paham apa itu personal brand. Para siswa tersebut mungkin tak menyadari bahwa mereka sesungguhnya telah memiliki personal brand, yang telah mereka bentuk dalam rentang hidup mereka.
Fokus dan tujuan dari tulisan ini adalah agar masing-masing dari Anda memahami pentingnya personal brand bagi para siswa, dan memandu Anda untuk menciptakan sebuah rencana aksi dalam rangka membimbing para siswa tersebut untuk menjadikan dirinya unik melalui personal branding.
Personal Branding : Apakah Itu? Mengapa Kita Harus Peduli?
Dalam definisi sederhana saya: Personal brand adalah siapa dirimu, kamu dikenal sebagai apa, dan apa yang kamu miliki untuk ditawarkan pada orang lain. Mengapa para siswa seharusnya peduli dengan personal brand nya? Poin utama akan arti penting mengembangkan personal brand adalah, agar para siswa bisa membuat dirinya berbeda dari orang lain. Dengan semakin banyaknya lulusan SMU yang melanjutkan ke bangku kuliah, kompetisi untuk bisa diterima di bangku kuliah juga semakin ketat. Tahukah kalian, lebih dari 200.000 lulusan SMU  lulus dengan nilai GPA 4.0 tahun lalu? Sadarkah kalian, bahwa HARVARD menolak lebih dari 200 pelamar setiap tahun dengan skor SAT sempurna, 2400? Poin dari data diatas adalah, tanpa personal brand (di luar skor yang memadai tentunya), baik universitas maupun dunia kerja melihat begitu seragamnya para siswa tersebut. Mereka tidak berbeda satu sama lain.

Saya pernah meawancarai sekitar 200 orang fresh graduate yang akan dipekerjakan kampus untuk posisi student advisor bagi mahasiswa baru. Pada setiap interview selalu saya akhiri dengan pertanyaan “Apa yang membedakanmu dari kandidat yang lain?, atau “Apa alasan mengapa aku harus mempekerjakanmu?”. Bagian yang mengecewakan adalah, jawaban mereka relatif seragam. Pertanyaanku kepada kalian wahai para pendidik: bagaimana membuat siswamu nampak menonjol di tengah lautan keseragaman?




Personal branding adalah sebuah upaya jangka panjang, dan masa SMU adalah masa terbaik untuk memulainya. Pada level SMU, personal branding melibatkan pengalaman-pengalaman belajar (formal), baik di dalam maupun di luar kelas; minat, hobi, keterampilan, dan keterlibatan mereka dalam lingkungannya. Dengan mulai melakukan assessment, kemudian membantu mereka untuk menciptakan brand nya (sesuai keunikannya) sejak dini, akan memudahkan bagi para siswa tersebut untuk mengembangkan dan memperkuat brand nya secara bertahap, seiring bertambahnya usia. Ini adalah tugas kita sebagai pendidik untuk membantu para siswa dalam mengidentifikasikan serta menyempurnakan kelebihan dan minatnya. Sementara itu, dunia akademik adalah bagian terbesar dari personal brand para siswa, padahal sesungguhnya bukan hanya itu. Dengan meningkatnya keseragaman, prestasi akademik hanyalah satu keping biji puzzle, dari sebuah puzzle yang besar. Saat ini, lebih dari sebelumnya, kita harus mendorong para siswa usia SMU untuk berani bermanufer, menghadapi kompetisi yang brutal ini, dengan mengembangkan sebuah personal brand yang positif, melalui pengalaman belajar di luar setting kelas tradisional.

Assessment : Membantu Siswa Untuk Mengidentifikasi Brand Nya

Kita bisa memulainya dengan menyampaikan pentingnya mengembangkan sebuah strategi diferensiasi  untuk masing-masing siswa. Assessment diri adalah metode yang disarankan, sebagaimana telah saya terapkan secara berhasil di Universitas Iowa. Assessment diri berfokus pada aktivitas seperti goal setting dengan metode SMART, analisis SWOT, dan Skills Assessment. Dimulai dengan mengajak siswa untuk membuat tujuan personalnya, mendefinisikan nilai-nilai mendasar yang dianutnya, serta merumuskan passion-nya. Setelah assessment, doronglah siswa untuk terlibat dalam berbagai aktivitas dan proyek baik di dalam maupun di luar kelas, untuk melanjutkan proses belajar dan pengembangan dalam bidang-bidang tersebut.

Media Sosial dan Personal Branding

Dari perspektif personal branding, kita harus mendidik para siswa dengan cara profesional dan edukatif, mengenai pentingnya perilaku bertanggung jawab dalam bersosial media. Ingat, posting kontroversial di media sosial adalah masalah penting dewasa ini yang dihadapi para lulusan perguruan tinggi karena berdampak pada sulitnya mereka mendapatkan pekerjaan. Demikian juga dengan siswa SMU, yang juga beresiko tinggi untuk menghadapi berbagai konsekuensi negatif akibat perilakunya yang tidak tepat di media sosial. Metode yang digunakan oleh perguruan tinggi untuk merekrut mahasiswa baru dewasa ini memiliki banyak kesamaan dengan metode perusahaan dalam merekrut karyawan. Salah satu hal yang menjadi pertimbangan untuk diterima atau tidak adalah perilaku di media sosial. Para siswa mungkin berfikir bahwa membuat guarauan bodoh, memposting foto dan video tak pantas semata hanya karena ingin membuat orang lain tertawa atau terkesan, akan tetapi, mereka sesungguhnya sedang memposting image tentang dirinya; baik positif maupun negatif. Sungguh sangat penting untuk mendidik siswa kita akan dampak dan konsekuensi dari perilaku berinternet mereka di masa yang akan datang. Saya membaca sebuah ungkapan akhir-akhir ini, dan ini sungguh menghawatirkan saya: “Apa yang kau lakukan di internet adalah permanen—seperti tertulis dengan tinta.”
Dari perspektif personal branding, banyak sekali bahaya yang harus kita ingatkan kepada anak didik kita terkait dengan perilaku mereka di dunia maya. Jika mereka bisa dididik agar menggunakan media sosial secara baik, maka banyak sekali aspek positif dan bermanfaat dari media sosial tersebut untuk mendukung pembentukan personal brand-nya. LinkedIn, begitu pula sosial media lainnya, memungkinkan para siswa untuk ikut terlibat dalam grup-grup diskusi dengan tema sesuai minat mereka. Ini adalah kesempatan mereka untuk fokus pada apa yang mereka minati dan mulai untuk terhubung dengan orang lain dengan minat yang sama. Saya telah terkoneksi dalam banyak grup dalam bidangku, dan aku mendapatkan banyak sekali pelajaran dari berbagai grup dan organisasi yang sejalan dengan bidangku.

Adapun cara lain untuk memanfaatkan internet sebagai sarana personal branding adalah dengan membuat website personal atau blog. Salah satu mantan murid saya telah sukses mendapatkan pekerjaan impianya melalui kekuatan personal branding yang ia lakukan via website pribadinya. Website pribadinya terbagi dalam beberapa seksi, seperti: Tentang Diriku, Hasil Kerjaku, Resume, Blog, dan Hubungi Saya. Adakah cara yang lebih baik untuk merepresentasikan dirimu selain menonjolkan hasil kerjamu dan menunjukan siapa dirimu sebagai seorang profesional? Ia adalah pemegang kendali dari personal brand-nya dan itu telah membantunya untuk meraih cita-citanya. Opsi potensial lain adalah memandu anak didikmu untuk mendapatkan sertifikasi penting dalam bidang tertentu atau mulai membuat portofolio pribadinya.

Pelajaran Tentang Personal Branding

Tetap konsisten: Adalah hal yang penting untuk menyampaiakan pada anak didikmu bahwa mereka harus konsisten dengan brand yang telah mereka bangun pada setiap saluran komunikasi mereka. Termasuk memastikan bahwa profil sosial media mereka harus ditinjau kembali atau diperbaharui, dan perilaku mereka, baik di dalam maupun di luar kelas, harus mencerminkan nilai-nilai dasar yang mereka anut.

Memiliki kesadaran diri: doronglah anak didikmu untuk mencari feedback dan selalu terbukalah kita untuk memberi feedback pada mereka secara konstruktif dan supportif. Semakin banyak feedback yang didapatnya, dan semakin tinggi pula kesadaran mereka tentang bagaimana mereka menampilkan dirinya, semakin mudah pula bagi mereka untuk menumbuhkan personal brand nya.

Ciptakan tampilan online yang positif: mengatur reputasi adalah kunci ketika mereka ingin memperluas pengetahuannya dan meninggalkan jejak digitalnya. Ingat, baik sekolah, perguruan tinggi, maupun perusahaan selalu mencari latar belakang seorang kandidat di internet. Pastikan bahwa anak didikmu menyadari hal ini.

Melakukan tindakan : Dorong anak didikmu untuk beraksi dan terlibat dalam berbagai aktivitas yang sesuai passion-nya. Manfaatkan secara maksimal media sosial untuk keuntungannya. Beranikan diri mereka untuk menjadi relawan dalam berbagai aktivitas sosial atau kepanitiaan, lalu membuat portofolio tentang hasil kerjanya, dan berperilaku secara konsisten sejalan dengan personal brand yang sedang ia bangun. Melakukan tindakan, yaitu mengikuti beragam aktivitas yang sejalan dengan passion nya, merupakan cara untuk memperkuat dan mempromosikan personal brand mereka.

Telah banyak Sekolah menengah atas maupun perguruan tinggi yang menawarkan kursus manajemen karir. Kursus-kursus semacam itu sangat menekankan pada pentingnya pengemabangan personal brand pada para pesertanya. Di sekolah dan kampus yang lain bahkan telah mengembangkan kurikulum tentang personal branding. Sekarang, lebih dari sebelumnya adalah tugas kita untuk membantu para siswa tentang bagaimana membuat diri mereka berbeda. Personal branding adalah kunci. Mari bantu para siswa untuk mewujudkannya.



Diterjemahkan dan disadur oleh: Reza Adetya Tama






Komentar

Postingan populer dari blog ini

LIKA-LIKU FRESH GRADUATE JOB SEEKER “MENGAPA GAGAL DI PSIKOTEST DAN WAWANCARA KERJA?”

Modul Pelatihan Basic Learning Skills: Modul 1: Speed Reading (Free Download in PDF)