LIKA-LIKU FRESH GRADUATE JOB SEEKER “MENGAPA GAGAL DI PSIKOTEST DAN WAWANCARA KERJA?”
Oleh:
Reza Adetya Tama
- “Sudah sering ikutan psikotest dan wawancara kerja, tapi kok ga pernah lolos yah? Bahkan belum sampai ke tahap wawancara pun seringkali sudah gugur. Apa sih sebenernya kriteria individu yang bisa lolos seleksi kerja?
- “IPK Cumlaude, dari universitas Bonavide, masih juga gagal psikotest dan wawancara? Apa salah saya?”
Pertanyaan-pertanyaan diatas
adalah bentuk FAQ (Frequently Asked Questions) yang sering ditanyakan, atau
setidaknya muncul dalam benak para job seeker, khususnya para fresh graduate.
Alasan kenapa mereka tidak diterima kerja adalah misteri yang seringkali bikin
frustrasi. Misteri yang seringkali dibawa sepanjang hidup, bahkan dibawa mati.
Jarang sekali ada perekrut yang berbaik hati memberi tahu alasan, kenapa
seorang calon karyawan tidak lolos seleksi. Perekrut hanya memberikan tiga
macam jawaban atas hasil psikotest dan wawancara calon karyawan, yaitu:
- Kabar baik : calon karyawan dihubungi oleh perekrut, dan dinyatakan lolos seleksi serta diterima bekerja di perusahaan atau instansi yang diwakili perekrut.
- Kabar kurang baik : calon karyawan dihubungi oleh perekrut dengan meminta maaf, menyatakan bahwa calon karyawan belum bisa bergabung dalam tim perusahaan yang diwakili oleh perekrut, dan seterusnya.
- Tidak ada kabar : kurang lebih artinya sama dengan poin nomer 2.
Karena tak mendapatkan jawaban yang pasti, maka sudah sewajarnya mereka akan mencari informasi sendiri untuk mengobati rasa penasarannya tersebut. Tentu saja yang paling mudah dilakukan adalah dengan browsing di internet. Ada banyak sekali tips dan trik yang akan mereka temukan di internet mengenai bagaimana lolos psikotest dan wawancara kerja. Judulnya pun seringkali dibuat menarik dan bombastis, seolah-olah memberikan jaminan bahwa mereka akan mudah diterima kerja jika mengikuti trik-trik yang disampaikan oleh penulis. Bahkan ada tips-tips yang lebih interaktif dengan video-video tutorial tentang bagaimana mengerjakan berbagai bentuk psikotest.
Ilustrasi 1:
Ilustrasi 2:
Yang menjadi persoalan kemudian adalah, apakah informasi yang diberikan oleh penulis artikel atau pembuat konten video tersebut valid, atau justru berpotensi menjerumuskan para jobseeker tersebut? Dari penelusuran penulis sendiri, banyak sekali informasi yang tidak valid dan menyesatkan. Para penulis dan pembuat konten video tersebut memberikan tips tentang bagaimana memanipulasi hasil alat test, dengan klaim bahwa hal itu akan memudahkan para jobseeker untuk segera mendapatkan pekerjaan yang ia dambakan. misal, gambarlah pohon seperti ini dan itu; atau gambarlah orang yang begini dan begitu; hingga bagaimana merancang jawaban dari alat test kepribadian atau intelijensi. Jika saran-saran tersebut Anda ikuti, yakinlah, bahwa Anda sedang mempermudah pekerjaan perekrut untuk segera "membuang" Anda dari daftar calon karyawan. Tentu saja, perekrut akan segera mengidentifikasi sejumlah kejanggalan dari profil psikologis Anda. Mengapa demikian? Silahkan baca artikel ini hingga selesai.
Setiap jabatan atau pekerjaan memiliki
uraian pekerjaan (Job descriptions: Jobdesc), yaitu pernyataan tertulis
dan mengikat, yang mengatur tugas, tanggung jawab, wewenang,
hak, kewajiban, dsb, pada seseorang yang menduduki jabatan/posisi pekerjaan tertentu. Dengan jobdesc ini, seorang yang menduduki jabatan tertentu akan memahami mengenai apa saja yang harus ia lakukan, apa saja yang menjadi kewajibannya, kepada siapa ia mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya, apa saja haknyna, sejauh mana wewenangnya, apa standart pencapaian dari pekerjaannya, dsb. Dari jobdesc tersebut dapat pula diukur seberapa tinggi resiko, kerumitan dan beban kerja dari suatu jabatan/pekerjaan tertentu. Jobdesc juga berfungsi untuk menjaga ritme, keteraturan, dan harmoni dalam perusahaan, dengan menjaga agar tidak terjadi tumpang tindih tugas, wewenang dan tanggung jawab, antara satu bagian dengan bagian lain.
Berdasarkan jobdesc inilah, perekrut
menentukan spesifikasi jabatan (Job Specification : Jobspec), yaitu serangkaian
karakteristik individu yang cocok atau dianggap mampu untuk
menduduki/menjalankan pekerjaan tersebut. Hal-hal yang biasanya ada dalam
jobspec adalah
- Faktor keahlian, seperti: tingkat pendidikan, jurusan, ipk, kemampuan mengoperasikan alat/sistem tertentu, memahami aturan ketenagakerjaan, pengalaman kerja, dsb.
- Faktor sumberdaya, seperti jenis kepribadian, tingkat intelektual (IQ), daya tahan terhadap stress, teamwork, komunikasi, inisiatif, kreativitas, dsb.
Tabel berikut adalah sebuah contoh hubungan antara jobdesc dan
jobspec:
Nama Jabatan : Human Resources Developement (HRD)
|
|
Jobdesc
|
Jobspec
|
|
Faktor keahlian:
|
Faktor sumberdaya:
|
|
Suatu pekerjaan dengan jobdesc tertentu, idealnya dilakukan oleh individu yang memenuhi jobspec tertentu. Kesesuaian antara pekerjaan dengan individu yang menjalaninya jelas akan berdampak positif, baik kepada perusahaan yang mempekerjakan maupun kepada individu yang menjalani pekerjaan tersebut.
Bagi seorang karyawan, pekerjaan yang sesuai dengan karakteristik personalnya, tentu akan lebih mudah, nyaman, dan menyenangkan untuk dijalani. Karyawan yang tidak cocok dengan pekerjaanya cenderung memiliki tingkat stress yang lebih tinggi, kurang produktif, tingkat absen (mangkir) yang tinggi, kecenderungan resign (keluar) di tengah jalan, bahkan hingga kena PHK karena banyak permasalahan. Hal ini tentu saja dapat merugikan perusahaan yang mempekerjakan karyawan tersebut. Karyawan yang kurang produktif atau seringnya bongkar-pasang karyawan (akibat resign atau phk) tidak baik bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan.
Dalam rangka mencari individu
yang sesuai jobspec, maka dilakukanlah psikotest dan wawancara kerja. Dengan psikotest dan wawancara kerja, maka dapat terlihat, apakah
seorang calon karyawan memiliki karakteristik atau skill yang sesuai dengan
jobspec ataukah tidak. Jika seorang calon karyawan memiliki karakteristik-karakteristik yang sesuai dengan jobspec, maka kandidat tersebut lebih besar kemungkinannya untuk diterima kerja atau setidaknya lolos untuk tahap-tahap seleksi selanjutnya. Sebaliknya, jika karakteristik kandidat jauh dari jobspec yang ditetapkan, maka kemungkinan diterima juga akan semakin kecil.
Biasanya, perekrut telah memiliki
seperangkat alat dan metode yang sudah terbukti valid, untuk melakukan
psikotest dan wawancara tersebut. Misal, untuk melihat aspek intelektualitas kandidat,
digunakanlah alat test intelijensi. Di samping mengungkap tingkat inteligensi umum (IQ), alat test intelijensi juga dapat digunakan untuk mengungkap kemampuan kandidat dalam beberapa ranah, seperti kemampuan membuat kesimpulan secara logis, membuat perencanaan sistematis, kemampuan memecahkan masalah, berfikir abstrak, daya tangkap, dsb.
Adapun alat test kepribadian digunakan untuk melihat karakter, temperamen, stabilitas emosi, tanggung jawab, integritas (kesetiaan pada prinsip moral), sosiabilitas (ekstrovert/introvert), motivasi (tinggi-rendahnya keinginan untuk berprestasi), dan lain sebagainya. Jika alat test intelijensi dinilai berdasarkan persentase jawaban benar dan salah, maka tidak demikian halnya dengan alat test kepribadian. Respon dalam test kepribadian tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Respon yang benar dalam test kepribadian adalah yang paling sesuai menggambarkan diri Anda. Test menggambar pohon, manusia, dan melengkapi gambar juga merupakan beberapa bentuk test kepribadian. Respon tidak dinilai berdasarkan seberapa indah gambar yang Anda buat, namun ada aspek-aspek kepribadian yang secara tidak sengaja Anda proyeksikan keluar melalui coretan, bentuk gambar, ukuran gambar, posisi gambar, dan lain sebagainya, sehingga perekrut bisa menemukan kecenderungan kepribadian Anda.
Berikutnya adalah test sikap kerja. Test sikap kerja adalah jenis test yang mengungkap kemampuan individu dalam tiga ranah, yaitu kecepatan kerja, keajegan kerja, dan ketelitian kerja. Pada dasarnya, test ini digunakan untuk memprediksi kemampuan kandidat dalam menjaga kecepatan, keajegan dan ketelitan kerjanya, di saat mereka berada dalam kondisi kelelahan dan penuh tekanan. Tugas dalam test ini adalah menjumlahkan deret-deret angka secara vertikal, dalam jangka waktu tertentu.
Adapun alat test kepribadian digunakan untuk melihat karakter, temperamen, stabilitas emosi, tanggung jawab, integritas (kesetiaan pada prinsip moral), sosiabilitas (ekstrovert/introvert), motivasi (tinggi-rendahnya keinginan untuk berprestasi), dan lain sebagainya. Jika alat test intelijensi dinilai berdasarkan persentase jawaban benar dan salah, maka tidak demikian halnya dengan alat test kepribadian. Respon dalam test kepribadian tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Respon yang benar dalam test kepribadian adalah yang paling sesuai menggambarkan diri Anda. Test menggambar pohon, manusia, dan melengkapi gambar juga merupakan beberapa bentuk test kepribadian. Respon tidak dinilai berdasarkan seberapa indah gambar yang Anda buat, namun ada aspek-aspek kepribadian yang secara tidak sengaja Anda proyeksikan keluar melalui coretan, bentuk gambar, ukuran gambar, posisi gambar, dan lain sebagainya, sehingga perekrut bisa menemukan kecenderungan kepribadian Anda.
Berikutnya adalah test sikap kerja. Test sikap kerja adalah jenis test yang mengungkap kemampuan individu dalam tiga ranah, yaitu kecepatan kerja, keajegan kerja, dan ketelitian kerja. Pada dasarnya, test ini digunakan untuk memprediksi kemampuan kandidat dalam menjaga kecepatan, keajegan dan ketelitan kerjanya, di saat mereka berada dalam kondisi kelelahan dan penuh tekanan. Tugas dalam test ini adalah menjumlahkan deret-deret angka secara vertikal, dalam jangka waktu tertentu.
Tak jarang, dalam suatu
proses perekrutan, beberapa aspek psikologis seorang kandidat diungkap dengan menggunakan
beragam test dan tehnik. Hal ini dilakukan agar perekrut memiliki gambaran yang
lebih utuh dan menyeluruh tentang profil psikologis kandidat. Maka tak heran, psikotest adalah sebuah proses yang
melelahkan karena prosesnya lama dan menyita energi sangat besar.
Sedangkan wawancara adalah upaya
final perekrut untuk memperoleh kesan tentang kandidiat. Hasil integrasi antara
psikotest dan wawancara akan menggambarkan profil utuh karakteristik kandidat.
Jika profil karakteristik kandidiat sesuai jobspec, maka kemungkinan kandidat
tersebut untuk diterima lebih besar, dan sebaliknya, jika profil karakteristik
kandidat tidak sesuai jobspec maka kemungkinan kandidat untuk diterima juga
semakin kecil.
Intinya, keseluruhan proses
perekrutan, dari surat lamaran, psikotest, wawancara, dsb, adalah upaya
perekrut untuk mendapatkan orang yang paling cocok, paling tepat, untuk
menduduki posisi/jabatan/pekerjaan tertentu (The Right Man On The Right Place
).
Sebagaimana telah dibahas diatas
bahwa psikotest dan wawancara adalah beberapa rangkaian dari suatu aktvitas
perekrutan tenaga kerja. Tujuannya jelas, yaitu menemukan the right man untuk
ditempatkan pada the right place. Oleh karena itu, jika seseorang tidak lolos
pada psikotest dan wawancara, maka ia bukanlah the right man yang diiinginkan
perusahaan, dan pekerjaan itu bukanlah the right place bagi kandidat karyawan
tersebut. Jika diajabarkan, ada beberapa alasan mengapa seorang kandidat
karyawan tidak lolos psikotest dan wawancara, yaitu:
1. Karakteristik personal kandidat karyawan tidak
sesuai/terlalu jauh dengan jobspeck. Perlu diingat, bahwa hal ini bukanlah
berarti bahwa kandidat memiliki karakter personal yang buruk. Tidak selalu ada
hubungan dengan baik atau buruk, akan tetapi masalah cocok atau tidak cocok.
Sebagai contoh, seorang yang berkarakter ekstrovert akan lebih cocok untuk
profesi-profesi yang banyak berinteraksi dan beraktifitas bersama orang lain,
seperti marketing, public relation, sales, jurnalis, dan semacam nya. Bagi
orang berkarakter ekstrovert, bersosialisasi adalah sebuah kebutuhan pokok.
Kesendirian adalah sesuatu yang stressful bagi ekstrovert. Kebutuhan mereka
untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain cenderung tinggi.
Seorang ekstrovert tentu saja akan mengalami banyak kendala jika harus
menjalani profesi seperti akuntan, dimana ia harus dalam waktu lama berkutat
dengan angka-angka dan mesin hitung. Dengan demikian, kinerjanyapun tidak akan
maksimal.
2. Banyaknya karakter negatif dan kurangnya soft
skill . Contoh karakter negatif seperti rasa tidak percaya
diri, terlalu pemalu, tidak punya pendirian, tidak bisa terbuka atau sebaliknya
terlalu dominan, bossy, temperamen, kritis tidak pada tempatnya, kurangnya
integritas, tidak bisa berempati, hobi melawan otoritas, dsb. Pada dasarnya, karakter negatif adalah karakter individu yang tidak sehat secara mental. Individu dengan karakter-karakter semacam itu berpotensi
mengganggu harmoni di tempat kerja dan rentan menimbulkan konflik, sehingga produktifitas kerja pun menjadi menurun. Sedangkan
kurangnya soft skill yaitu rendahnya kemampuan kandidat dalam keterampilan-keterampilan hidup seperti
komunikasi, manajemen diri, manajemen waktu, kepemimpinan, kreativitas, dsb. Soft skill yang baik akan memudahkan individu untuk melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan kerja, berkomunikasi secara efektif, bernegosiasi, bersikap fleksibel, dsb.
3. Gagal membuat kesan positif saat wawancara
kerja. Bisa jadi, seorang telah sukses melalui tahap-tahap psikotest, akan
tetapi gagal dalam wawancara kerja. Wawancara kerja adalah upaya terakhir bagi
perekrut untuk memperoleh kesan yang lebih menyeluruh pada kandidat karyawan.
Pewawancara akan menilai bagaimana kandidat bersikap, berperilaku dan
berpenampilan, hingga bagaimana mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan dari
interviewer. Jika ada dua kandidat dengan skor psikotest yang kurang lebih
sama, dan hanya ada satu yang bisa diterima, maka hasil wawancara ini adalah
penentu. Wawancara sering kali mengungkap hal-hal yang tidak bisa diungkap oleh
psikotest, seperti kemampuan berkomunikasi, percaya diri, kreativitas, soft
skill, pengalaman, dsb. Dalam wawancara, seorang kandidat haruslah bisa
menampilkan dan meyakinkan pewawancara, bahwa ia layak untuk diterima dan
bergabung dalam tim kerja di perusahaan perekrut. Oleh karena itu, ia harus
nampak profesional dan siap kerja. Hal ini seharusnya ia tampakkan dari
penampilan, sikap, hingga cara berkomunikasi pada saat wawancara. Jika
pewawancara gagal menangkap kesan positif pada diri Anda, maka kemungkinan Anda
untuk diterima pun semakin kecil.
Tips Personal Branding Saat Wawancara Kerja : https://psychepediaindonesia.blogspot.com/2019/02/bagaimana-menampilkan-personal-brand-mu.html
4. Kurangnya kesiapan fisik dan mental dalam
menghadapi psikotest dan wawancara kerja. Perlu diketahui bahwa aktivitas
psikotest adalah suatu aktivitas yang lama dan melelahkan. Aktivtas tersebut
seringkali berlangsung selama berjam-jam hampir non-stop. Para kandidat harus
menghadapi berbagai macam bentuk test yang panjang, ada yang sulit, dan
seringkali menjemukan. Kelelahan baik fisik maupun mental merupakan hal lumrah
yang akan dihadapi hampir semua kandidiat yang menjalani psikotest. Oleh karena
itu, setiap kandidat sebaiknya melakukan persiapan baik fisik maupun mental. Kelelahan,
kejemuan dan frustrasi dalam menjalani proses psikotest yang panjang ini tentu
saja akan berdampak pada performance dan hasil kandidat. Lelah dan jenuh tak
jarang membuat kandidat mengerjakan psikotest terburu-buru dan asal selesai.
D. Bisakah Memanipulasi Hasil Psikotest?
Jika kita browsing di internet,
ada banyak sekali trik-trik yang bisa ditemukan tentang bagaimana cara lolos
psikotest. Bahkan beberapa alat test dan kuncinya bisa kita temukan pula di
internet. Ada pihak-pihak yang membocorkan alat-alat test tersebut, bahkan
memberikan tutorial mengenai cara menjawab psikotest, dan diklaim bisa membantu
pencari kerja agar lolos psikotest. Atau, saran-saran tentang bagaimana
menggambar pohon dan orang agar (katanya) membuat lebih mudah diterima kerja.
Intinya adalah tips melakukan manipulasi agar hasil psikotest tersebut nampak
sesuai dengan apa yang diinginkan oleh perekrut/perusahaan. Bahasa kekiniannya
adalah upaya untuk melakukan pencitraan (menyembunyikan jati diri) dengan
memanipulasi hasil psikotest.
Ilustrasi :
Ilustrasi :
Yang menjadi pertanyaan adalah,
benarkah itu sebuah solusi, atau justru menjerumuskan? Sebelum menjawab
pertanyaan tersebut, ada beberapa hal yang sebaiknya diketahui mengenai
psikotest dan wawancara kerja ini, yaitu:
a. Ibarat sebuah sistem penyaringan air yang
melibatkan berbagai macam filter, sehingga output nya adalah air yang bersih
dan layak minum, demikian pula dengan psikotest dan wawancara kerja. Psikotest
dan wawancara kerja adalah seperangkat sistem seleksi, yang terdiri dari
beragam metode dan alat test, sehingga betul-betul tersaring individu yang
sesuai kualifikasi. Bisa jadi satu atribut individu (seperti kepribadian dan kecerdasan),
diungkap dengan lebih dari satu alat test. Ada kalanya, seorang perekrut
menggunakan dua alat ukur intelijensi, dan empat alat ukur kepribadian dalam
rangka menggali kualifikasi seorang kandidat. Ditambah lagi dengan wawancara
kerja, maka lengkaplah profil psikologis kandidat.
b. Ada kalanya seorang kandidat telah berulang kali
mengikuti psikotest dan wawancara kerja. Dengan demikian, ia menjadi cukup
familiar dengan alat test yang digunakan dalam suatu psikotest. Dengan realitas
semacam itu, apakah lantas kandidat menjadi lebih mudah dalam mengerjakan
psikotest? Jawabanya adalah, bisa iya dan tidak. Untuk jenis test tertentu,
bisa jadi familiaritas akan berdampak pada performansi kandidat untuk
mengerjakan beberapa item soalnya. Akan tetapi, jika pertanyaannya adalah
apakah familiaritas terhadap psikotest membantu kandidat untuk berpeluang lebih
besar diterima kerja? Jawabnya adalah tidak. Jika pada akhirnya seorang
kandidat diterima kerja setelah sekian kali mengikuti psikotest, bukanlah
karena kandidat tersebut familiar dengan alat test nya, akan tetapi karena
kandidat tersebut telah menemukan pekerjaan dengan jobspec yang sesuai dengan
karakter personalnya. Sebagaimana telah dijelaskan pada poin A, psikotest dan
wawancara adalah sistem seleksi yang melibatkan beragam alat dan metode.
Seorang kandidat hampir mustahil untuk bisa familiar dengan seluruh alat dan
metode yang digunakan oleh perekrut. Belum lagi situasi test yang sering kali
panjang dan melelahkan, membuat seseorang akan menampakan karakter aslinya.
c. Jadi, mungkinkah memanipulasi hasil psikotest?
Pada dasarnya mungkin. Semua hasil karya manusia pasti ada kelemahannya. Akan
tetapi, ada satu prinsip dalam aktivitas manipulasi, yaitu: manipulator yang
handal, harus tahu betul apa yang akan ia manipulasi. Jika tidak, manipulasinya
akan mudah sekali terungkap. Seorang manipulator handal mestinya memahami betul
setiap detail dari apa yang akan ia manipulasi, dari prosedur awal, alat,
proses, dsb. Untuk memanipulasi psikotest, setidaknya kandidat harus paham
bagaimana administrasi alat test, dari penyajian, skoring hingga interpretasi.
Belum lagi masalah integrasi data, sehingga diperoleh profil utuh spesifikasi
calon kandidat. Ia harus membuat jawaban-jawaban sedemikian rupa, sehingga
profil yang nampak sejalan dengan jobspec yang dipersyaratkan oleh perekrut.
Mungkinkah itu dilakukan? Jawabanya adalah hampir mustahil, kecuali yang sedang
mengikuti psikotest adalah perekrut/HRD yang berpengalaman. Upaya manipulasi
yang dilakukan kandidat, tak jarang justru mempermudah pekerjaan perekrut,
untuk menganulir kandidat tersebut dari daftar calon karyawan, karena kandidat
tersebut justru membuat banyak kejanggalan dari respon testnya.
d. Jika manipulasi tersebut berhasil dilakukan oleh
kandidat, apakah yang terjadi? Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa
tujuan dari perekrtutan adalah mencari “the right man on the right place”. Jika
seorang sukses melakukan manipulasi, maka orang tersebut bukanlah “the right
man on the right place”. Ia hanya sukses membuat pencitraan di mata perekrut
bahwa dirinya adalah orang yang tepat untuk menjalani pekerjaan yang
ditawarkan. Lalu apakah akibatnya? Mungkin pada satu bulan pertama, karyawan
tersebut akan menjalin pekerjaan barunya itu dengan perasaan bahagia dan penuh
semangat. Akan tetapi, pada bulan-bulan berikutnya, ia mulai merasa tertekan,
mudah lelah, serba terpaksa, bahkan pekerjaanya tidak selesai sesuai deadline.
Ia sering menerima teguran dari atasan begitu pula sering berkonflik dengan
teman kerjanya. Bekerja menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dan amat
stressful. Akhirnya, ia hanya menunggu kontrak kerja habis atau bahkan sudah
diputus kontrak kerjanya secara sepihak oleh perusahaan.
Dari pemaparan diatas, dapatlah
kita simpulkan bahwa upaya memanipulasi hasil psikotest bukanlah sebuah solusi
untuk cepat mendapatkan kerja, namun justru sebaliknya, adalah sebuah upaya
untuk menjerumuskan diri. Jika tidak sukses memanipulasi, perekrut akan segera
menganulir kandidat tersebut, sebaliknya jikapun ia kebetulan sukses
memanipulasi , ia akan banyak mengalami
permasalahan dalam menjalani pekerjaannya.
Lalu, adakah solusinya? Jika
solusi yang dimaksud adalah sebuah jaminan bahwa Anda pasti lolos psikotest dan
wawancara, tentu saja tidak ada. Di samping psikotest dan wawancara kerja,
masih banyak faktor lain yang berpengaruh apakah seorang kandidat akan diterima
ataukah tidak. Perekrut seringkali hanya memberi saran pada perusahaan tentang
siapa saja yang layak untuk direkrut. Pada akhirnya, pihak pengambil keputusan
di perusahaan/instansi/organisasilah yang memutuskannya.
Akan tetapi, jika solusi yang
dimaksud adalah dalam rangka memperbesar peluang seseorang untuk diterima kerja, tentu saja
solusi semacam itu ada. Ingin tahu lebih banyak? Silahkan lanjutkan membaca
artikel ini hingga selesai.
E. Kenali Dirimu dan Kenali “Medan Perangmu”
Seperti kata seorang filosof
sekaligus ahli strategi perang Cina kuno, Tzun Tsu “kenalilah dirimu, dan
kenalilah medan perangmu, maka engkau akan menang di seratus pertempuran”.
Mengenali diri adalah kemampuan individu untuk mengidentifikasi berbagai
karakter yang ada dalam dirinya, sehingga memahami kelebihan, kelemahan, serta
berbagai potensi yang ada dalam dirinya. Sedangkan berbagai tuntutan dan
persaingan di pasar kerja itulah “medan perang” bagi para job seeker. Untuk
itulah seorang job seeker perlu
mengetahui “medan perangnya”, yaitu mengetahui karkter pekerjaan yang sedang
atau akan ia lamar. Karakter pekerjaan berarti segala hal terkait pekerjaan
yang diminati, dari jobdesc hingga jobspec-nya, serta aspek-aspek lain yang
terkait dengan pekerjaan tersebut. Untuk mencari tahu tentang karakter
pekerjaan yang diminati, tentu saja seorang job seeker harus melakukan upaya
lebih, seperti browsing di internet, bahkan jika perlu, mencari informasi pada
pihak-pihak yang berkompeten dengan masalah tersebut. Mengapa dua hal tersebut
penting bagi seorang job seeker?
Pengetahuan akan karakteristik
diri dan pengetahuan akan karakteristik pekerjaan akan mempermudah seseorang
untuk memahami apakah karakter personalnya sudah sesuai dengan jobspec dari
pekerjaan yang akan ia lamar ataukah tidak. Di samping itu, dengan pengenalan
diri, ia juga akan mengetahui karakter-karakter minor apa sajakah yang masih dimilikinya,
sehingga berpotensi menjadi penghalang dirinya untuk bisa bersaing di pasar
kerja. Dengan demikian, seorang job seeker bisa membuat rencana yang lebih
realistis dan terarah tentang target karir yang akan ia bidik. Ia pun akan
mampu untuk mengidentifikasi beragam karakter minor yang masih ada dalam
dirinya, sehingga bisa membuat sebuah perencanaan untuk memperbaiki
karakter-karakter minornya tersebut, termasuk menambah soft skill yang belum
dimilikinya. Inilah yang disebut sebagai pengembangan diri (self developement).
Seringkali, seorang fresh
graduate job seeker masih euforia dengan idealismenya terkait karir yang ingin
diraihnya. Akan tetapi, banyak dari mereka tidak sadar bahwa karakteristik
personalnya ternyata kurang berpihak pada idealismenya tersebut. Setelah sekian
kali mengikuti psikotest dan wawancara, dan gagal pula untuk kesekian kalinya,
barangsur mulai muncul rasa frustrasi. Berbagai pertanyaan yang membuat
frustrasi tersebut tidak pernah terjawab, sehingga ia pun tak pernah tahu apa yang
menjadi penyebab kegagalannya. Para perekrutpun tak pernah berbaik hati untuk
memberitahukan hasil psikotest dan wawancara kepadanya, agar ia tahu apa yang
menjadi penyebab kegagalannya. Ia mungkin tidak pernah sadar bahwa jobspec dari
pekerjaan tersebut idak cocok untuk dirinya; atau bahkan ia juga tak sadar
bahwa dalam dirinya masih memiliki sejumlah karakter negatif yang membuatnya
tidak dilirik oleh perekrut, termasuk kurangnya soft skill yang penting dalam
dunia kerja. Hal tersebut menandakan bahwa si job seeker tersebut kurang
mengenali diri dan tidak mengenali “medan perangnya” sehingga gagal di di
berbagai “medan perang” (persaningan dalam memasuki dunia kerja).




Komentar
Posting Komentar