Bagaimana Menampilkan Personal Brand-mu Dalam Sebuah Wawancara Kerja

Oleh
Jaquelyn Smith

“Hidup bukanlah untuk menemukan dirimu. Hidup adalah untuk menciptakan dirimu”
. George Bernard Shaw



Personal brand adalah semua bakat unik yang ada dalam diri Anda, yang kemudian Anda tampilkan/komunikasikan keluar kepada orang lain. Ia (personal brand) adalah kualitas unik yang melekat pada diri Anda, yang dibicarakan orang lain pada saat Anda tidak ada bersama mereka, begitu pula tentang seberapa tinggi mereka memberi nilai pada kualitas-kualitas diri Anda tersebut.

Sedangkan aktivitas ” personal branding adalah berbagai proses untuk menemukan bakat-bakat unik Anda, kemudian mengkomunikasikanya kepada orang lain, melalui berbagai media, sehingga sampai kepada pihak yang tepat” demikian kata Dan Schawbel, pendiri Millenial Branding dan penulis buku Promote Yourself: The New Rule For Career Success. “Setiap orang memiliki brand personal-nya, dari celebritis, penulis, pengusaha, pekerja, bahkan mahasiswa. Kita semua hidup di dunia yang didorong oleh brand, sehingga, jika Anda tidak memiliki personal brand yang kuat, maka Anda akan hilang dari perhatian orang”.

Mike Fenlon, salah seorang talent leader (pencari bakat) yang bekerja untuk PricewaterhouseCoopers menambahkan: “setiap interaksi yang Anda lakukan dengan orang lain memungkin Anda untuk meninggalkan kesan kepada siapapun di sekeliling Anda. Ketika Anda konsisten untuk mengirimkan kesan-kesan tersebut, yaitu terkait dengan kualitas-kualitas unik dan bernilai tentang diri Anda, maka Anda sedang membangun personal brand yang kuat, autentik, berbeda dan mudah diingat oleh orang lain. Singkat kata, itu adalah reputasi Anda.

Pada gilirannya, suatu personal brand yang kuat akan membantu Anda dalam proses mencari kerja.
“Cara terbaik untuk mendapatkan pekerjaan adalah membangun brand yang kuat dan atraktif, sehingga dapat menarik kesempatan-kesempatan (kerja) baru” demikian kata Schwabel. “Anda harus berfikir bagaimana Anda dilamar oleh perekrut, dan bukan sebaliknya, Anda melamar kerja”. Hampir semua pencari kerja memenuhi lowongan dengan cv, surat lamaran dan resume, sembari berharap untuk mendapatkan respon. Ia manambahkan “pencari kerja yang cerdas akan menciptakan tampilan-tampilan online (website, media sosial, dsb)  yang sangat menarik, kemudian mengoptimalkannya (dengan konten-konten unik, berkualitas, dan menjual), sehingga perekrut tidak sekedar menemukan Anda, akan tetapi juga sangat ingin untuk mewawancara Anda”.

“Mungkin, keuntungan terbesar dari personal branding bagi pencari kerja adalah munculnya kesadaran diri tentang keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat unik yang dimilikinya, mengenali minatnya serta segala hal yang membedakannya dari orang lain”, kata Fenlon. “Hal ini dapat memberikan keuntungan yang sangat besar ketika ia ingin unggul dalam suatu pasar kerja yang sangat kompetitif, dan menemukan pekerjaan yang cocok untuk dirinya. Menjalani proses personal branding membutuhkan waktu yang cukup panjang dan refleksi diri yang penuh pemikiran dan kehati-hatian, akan tetapi, ini adalah investasi yang sangat berharga karena hal itu dapat membantu Anda untuk fokus pada langkah jangka panjang Anda.
Sebagai seorang pencari kerja, adalah penting bagi Anda untuk dapat terkoneksi secara intelektual dan emosiaonal dengan orang-orang yang sedang mewawancarai Anda. Schawbel menjelaskan “Dengan mempersiapkan diri untuk wawancara kerja secara bersungguh-sungguh, yaitu dengan menampilkan poin-poin kekuatan dari kepribadianmu, bersikap profesional, berpakaian secara baik, menunjukan bahasa tubuh yang positif, dan melakukan follow up (mengirimkan ucapan terima kasih dan harapan untuk diterima kerja, biasanya via email/socmed) segera setelah wawancara, berarti Anda telah menempatkan diri sebagai kandidat teratas yang kemungkinan besar akan diterima”. Dewasa ini, untuk menghadapi persaingan di pasar kerja, sekedar memenuhi kualifikasi (yaitu syarat minimal untuk menduduki suatu pekerjaan tertentu) saja tidaklah cukup. Perekrut harus merasa bahwa Anda adalah kandidat yang paling tepat untuk diterima.
Fenlon menyatakan bahwa interview kerja mungkin adalah kesan pertama-dan paling bertahan lama-yang diperoleh oleh perekrut mengenai diri Anda, dan seberapa tepat Anda bisa bergabung dalam perusahaan mereka. Cara terbaik untuk merepresentasikan brand Anda adalah dengan menjadi diri Anda sendiri, dan Anda harus bisa membuat gambaran yang jelas tentang siapa Anda.
Saat menjalani wawancara kerja, Anda harus menyampaikan dengan sangat jelas tentang siapa diri Anda, apa yang menjadi passion Anda, dan Anda ingin dikenal orang sebagai apa, dsb. Anda harus betul-betul mampu untuk mengartikulasikan dan memancarkan diri Anda yang autentik, baik dengan kata-kata maupun perilaku. Pastikan bahwa Anda memiliki kisah-kisah (nyata/real) tentang pengalaman hidup yang menunjukan betapa luar biasanya diri Anda (misal: permasalahan genting yang pernah Anda atasi dengan baik). Kisah-kisah tersebut harus disampaikan sedemikian rupa agar mudah diingat oleh perekrut, dan dengan cara yang autentik (jujur/tidak mengada-ada).


Berikut ini adalah beberapa cara bagaimana menampilkan personal brand Anda dalam wawancara kerja
  • Sebelum wawancara, carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang perusahaan dimana Anda ingin diterima. Carilah informasi tentang siapakah mereka, pelayanan seperti apa yang mereka berikan, siapa klien mereka, dsb. Kemudian, persiapkanlah setiap pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan kepada Anda nanti oleh perekrut. Carilah kesempatan untuk melakukan simulasi wawancara dengan teman Anda. Akhirnya, persiapkan pula pertanyaan-pertanyaan yang akan Anda tanyakan pada pewawancara. Ingat! Interview adalah “jalan” dua arah, dan pertanyaan Anda bisa jadi mengatakan sesuatu tentang siapa diri Anda dan personal brand Anda.
  • Datanglah ke wawancara kerja dengan piranti personal branding Anda, seperti kartu nama, resume, cover letter, dokumen-dokumen penting yang relevan, portofolio pekerjaan Anda, dsb. Setiap piranti personal branding anda harus mencantumkan alamat website atau sosial media Anda, khususnya yang relevan dengan dunia kerja seperti LinkedIn. Dengan melakukan hal ini, perekrut akan melihat Anda sebagai seseorang yang datang dalam keadaan telah siap (kerja), penuh pertimbangan, dan memahami bagaimana menjual diri Anda.
  • Tunjukan bahasa tubuh yang positif, duduk menghadap ke depan, tersenyum, jabat tangan erat, lakukan kontak mata (untuk menunjukan rasa antusias) selama aktivitas wawancara kerja. Dengan cara ini, berarti Anda menunjukan rasa hormat pada pewawancara Anda, dan Andapun tidak akan dipandang sebelah mata oleh pewawancara. Hal ini sekaligus menandakan bahwa Anda begitu antusias dengan posisi yang Anda lamar tersebut, di mana hal ini penting mengingat begitu banyak orang yang juga ikut berlomba-lomba untuk pekerjaan tersebut. Dengan demikan, jika Anda gagal untuk menampilkan diri secara menarik, maka Anda akan terlewatkan begitu saja. Fenlon setuju bahwa “kesan pertama itu sangat penting” . Ia mengatakan “wawancara itu telah dimulai sejak Anda masuk ke dalam ruang wawancara”. Jangan sampai hal kecil seperti cara berpakaian atau bahasa tubuh Anda menenggelamkan “kapal” Anda bahkan sebelum Anda sempat membuka mulut.
  • Jangan takut untuk bertanya. Anda juga perlu untuk bertanya kepada pewawancara mengenai pekerjaan yang ditawarkan dan lingkungan kerja Anda nantinya. Buatlah pertanyaan yang mengesankan bahwa Anda begitu antusias dengan pekerjaan tersebut.
  • Ceritakanlah kisah Anda. Fenlon mengatakan “Janganlah sekedar mengulang apa yang telah Anda tulis dalam CV atau resume Anda. Gunakan kekuatan bercerita untuk mengisahkan siapa diri Anda yang sesungguhnya, dan apa saja yang penting bagi Anda. Akan lebih mudah menumbuhkan rasa antusias pewawancara kepada Anda ketika Anda bercerita, daripada sekedar menyampaikan ulang fakta-fakta yang sudah Anda tulis di CV atau Resume.
  • Ungkapkan keterampilan atau bakat unik yang Anda miliki (yang masih relevan dengan pekerjaan yang ditawarkan), di mana hal tersebut akan membuat Anda berbeda dengan kandidat-kandidat lainnya.
  • Jadilah diri Anda yang autentik (jujur dan apa adanya), dan tampilkan secara unik (bukan berlebihan) agar Anda mudah diingat.
  • Follow up paska interview, yaitu membuat ucapan terima kasih secara unik (bukan berlebihan) kepada pihak perusahaan yang telah memberikan kesempatan kepada Anda untuk mengikuti wawancara, baik melalui email; atau sosial media seperti facebook, twitter atau linkedind, dsb. Anda dapat melakukannya, misal dengan menuliskan kesan-kesan positif selama wawancara lalu anda tag/mention kepada media sosial milik perusahaan. Hal ini akan membuat Anda lebih memiliki kesan di mata perusahaan yang akan merekrut Anda.
  • Gunakan pendekatan yang berbeda dengan orang lain saat Anda mengikuti wawancara. Jangan sekedar jadi pengekor orang lain. Definisikan siapa diri Anda, dan apa saja keterampilan terbaik Anda, lalu komunikasikan itu secara unik dan efektif kepada orang yang mewawancarai Anda. Lakukanlah hal yang berbeda, ambil resiko, dan jadilah diri Anda sendiri.

-         Diterjemahkan Bebas Dari Tulisan Jaquelyn Smith, Oleh Reza Adetya Tama
Berjudul “How To Showcase Your Personal Brand In A Job Interview

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LIKA-LIKU FRESH GRADUATE JOB SEEKER “MENGAPA GAGAL DI PSIKOTEST DAN WAWANCARA KERJA?”

Modul Pelatihan Basic Learning Skills: Modul 1: Speed Reading (Free Download in PDF)

TANTANGAN MEMBANGUN PERSONAL BRAND: LEBIH MUDA, LEBIH BAIK